Cara Mendiagnosa Diabetes Melitus Dengan Tepat

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolisme yang mempunyai karekteristik khas yaitu kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia). Dari karakteristik ini, paramedis bisa mendiagnosa diabetes melitus dan merencanakan langkah pengobatannya.




Diabetes dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah kencing manis atau penyakit gula. Adapun gejala diabetes yang paling umum adalah berat badan susut dan luka yang tak kunjung sembuh.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Diabetes Melitus adalah satu penyakit kronis yang terjadi pada saat pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif.

Di artikel pengensehat.com kali ini kita akan membahas secara mendetail bagaimana cara mendiagnosa diabetes melitus dengan benar.

Tingginya kadar gula penderita diabetes disebabkan oleh karena terdapat gangguan fungsi pankreas, yaitu:

  • Terganggunya fungsi sekresi jumlah insulin atau
  • Kerja fungsi insulin atau
  • Kombinasi dari kedua faktor tersebut.

Adanya gangguan pada fungsi pankreas menyebabkan munculnya gejala-gejala khas yang dirasakan penderita. Tapi meski demikian, positif atau negatif seseorang menderita diabetes hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan khusus.

Lalu bagaimana cara mendiagnosa diabetes melitus secara pasti? Tentu saja langkah paling utama dalam diagnosis diabetes adalah melalui pemeriksaan kadar gula di dalam darah.




Meski demikian, pemeriksaan darah tak serta-merta valid, apalagi jika menggunakan alat pendeksi gula darah yang cepat dan kilat layaknya yang banyak tersedia di layanan puskesmas, klinik, apotek, maupun yang terjual bebas di pasaran.

Diagnosa diabetes dengan pemeriksaan kadar gula darah yang benar harus dengan sampel darah yang diambil langsung dengan jarum suntik melalui pembuluh darah vena.

Cara mendiagnosa diabetes melitus

Cara mendiagnosa diabetes melitus

Sebelum melakukan pemeriksaan kadar gula darah, tentu harus dicari tau lebih dahulu ada atau tidak gejala klasik pada seseorang yang dicurigai menderita DM. Apa saja gejala klasik itu?

Sebenarnya gejala klasik telah disebutkan sebelumnya, yaitu berbagai gejala yang mengandung banyak, alias  :

  • Banyak makan,
  • Banyak minum, dan
  • Banyak berkemih atau buang air kecil (BAK).

Orang-orang yang mengalami gejala klasik di atas perlu memeriksakan diri ke dokter untuk mencari tahu apakah dirinya menderita diabetes atau penyakit lain.

Selepas mencari ada tidaknya gejala klasik, maka selanjutnya pasien perlu melakukan pemeriksaan atau tes kadar gula darah.

Dalam dunia medis, tes gula darah yang digunakan meliputi dua cara pemeriksaan, yaitu :




  1. Pemeriksaan gula darah puasa (GDP). Cara pemeriksaan yang satu ini adalah dengan menjalani puasa lebih dahulu selama kurang lebih 8 jam sebelum diambil darah. Puasa total, tanpa makan atau minum sama sekali. Maka, jika Anda memang akan menjalani peneriksaan ini, Anda sebaiknya memang telah berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter supaya dibuatkan janji pertemuan selanjutnya untuk menjalani pemeriksaan gula darah.
  2. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Setelah tes gula darah, lalu dilanjutkan dengan buka puasa menggunakan larutan gula yang ditentukan tanpa makanan atau minuman lainnya, kemudian darah kembali diambil untuk diperiksakan. Pemeriksaan ini disebut Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO).

Pasien tentu akan merasa sakit saat pengambilan darah perifer, apalagi menjalaninya harus dua kali. Jadi, mengapa harus dua kali pemeriksaan? Jawabannya adalah karena kriteria diagnosis Diabetes Mellitus ini telah dirumuskan melalui berbagai rangkaian penelitian.

Bahkan, kriteria yang sudah ada rutin untuk dievaluasi melalui penelitian dan pertemuan ilmiah oleh dokter di seluruh dunia.

Kriteria yang digunakan oleh Indonesia pun juga dikaji kembali oleh para dokter di dalam negeri, supaya kriteria tersebut sesuai dengan segala kondisi yang ada di negeri kita tercinta ini.

Oleh karena itu, untuk menegakkan diagnosis pasti Diabetes Mellitus, memang memerlukan hasil dari dua tes kadar gula darah tersebut.

Baiklah, setelah bersedia menjalani dua jenis pemeriksaan kadar gula darah, jadi bagaimana kriteria diagnosis DM ? Menurut Perkumpulan Endokrinologis Indonesia (PERKENI), kriteria diagnosis antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126mg/dL dengan adanya keluhan klasik.
  2. Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL.

Selain pemeriksaan gula darah di atas, Diabetes Mellitus juga bisa ditegakkan dengan meriksa kadar HbA1C pada darah.

Mekanismenya sebenarnya serupa, yaitu dengan mengambil darah dari vena. Namun, perbedaannya hanya jenis senyawa yang ingin dinilai dari sampel darah. Seseorang dikatakan menderita DM jika HbA1C sama atau lebih dari 6,5%.

Sayangnya, pemeriksaan HbA1C hanya bisa dilakukan di laboratorium yang menggunakan metoda yang bersertifikat National Glycohemoglobin Standardization Program (NGSP) dan standard untuk diuji Diabetes Control and Complications Trial (DCCT).

Maka, tak heran pemeriksaan ini pun memakan biaya yang lebih banyak dari tes gula darah yang telah dibahas sebelumnya.

Oleh karena itu, dokter jarang melakukan pemeriksaan yang satu ini alias hanya pada indikasi tertentu, dokter meminta pasiennya menjalani pemeriksaan HbA1C.

Demikian artikel pengensehat.com kali ini yang membahas cara mendiagnosa Diabetes Mellitus. Jika Anda mengalami keluhan atau kondisi yang sesuai dengan bahasan artikel ini, maka Anda sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan bahwa Anda memang menderita kencing manis atau tidak.

Leave a Reply