Gejala Awal Diabetes Mellitus Tipe 2

Menurut International Diabetes Federation Atlas 2015, Indonesia menduduki posisi peringkat ke-7 dengan penderita diabetes terbanyak berjumlah 10,0 juta pasien setelah China, India dan Amerika Serikat.




Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia diperkirakan akan mencapai 21,3 juta orang pada tahun 2030 dan diperkirakan 415 juta orang menghidap Diabetes Melitus dengan sekitar 318 juta orang dewasa mempunyai gangguan toleransi glukosa.

Diabetes mellitus atau yang dikenal oleh masyarakat awam pada umumnya dengan istilah kencing manis, merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.

Maksud dari hiperglikemik adalah kondisi dimana kadar gula atau glukosa di dalam darah berada di atas batasan normal yang seharusnya.

Kondisi hipergilemik yang berlangsung secara terus menerus akan menyebabkan kerusakan jangka panjang pada berbagai organ di tubuh, seperti:

  1. Mata
  2. Ginjal
  3. Syaraf
  4. Jantung dan Pembuluh darah.

Terdapat beberapa tipe penyakit diabetes dan Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan.

Penyakit DM 2 kerap timbul pada orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas dengan angka kejadian mencapai 2-3 kali lipat lebih banyak daripada mereka yang belum berusia 40 tahun.




Angka kejadian DM tipe 2 juga akan meningkat tanpa penanganan segera yang tepat.

Baik masyarakat awam maupun para tenaga medis, telah lama mengetahui bahwa Diabetes merupakan penyakit keturunan, namun terdapat juga faktor pencetus yang lain, misalnya :

  • Infeksi virus pada Diabetes Melitus tipe 1,
  • Kegemukan,
  • Pola makan yang salah dan tidak sehat,
  • Obat-obatan yang menaikkan kadar glukosa darah,
  • Stres dan lain-lain

Ketika multi-risiko tersebut akhirnya menyebabkan seseorang menderita diabetes, biasanya kondisi penderita Diabetes melitus tipe 2 bisa semakin buruk.

Penyebabnya karena penderita tidak mampu menghilangkan faktor risiko yang biasanya terkait dengan gaya hidup yang salah seperti kegemukan, kurang aktivitas dan pola makan yang tidak sehat.

Alhasil, faktor-faktor risiko dan kejadian diabetes bak sebuah lingkaran setan yang saling memengaruhi dan tanpa ada habisnya.

Apakah ada satu atau lebih dari berbagai faktor risiko tersebut pada diri Anda? Kalau jawaban Anda iya, maka Anda harus lebih berhati-hati.

Anda pun sebaiknya mengenali gejala-gejala awal Diabetes Mellitus. Mana tau kelak ternyata dijumpai gejala awal diabetes, Anda bisa segera memastikannya serta kelak penanganan selanjutnya yang sesuai pun dapat segera diberikan.

Gejala Diabetes Melitus Tipe 2

Gejala diabetes melitus tipe 2

Gejala diabetes melitus tipe 2

Apa saja gejala-gejala Diabetes Mellitus tipe 2? Di artikel pengensehat.com kali ini kita akan mengulasnya secara lengkap.

Gejala Diabetes Mellitus atau kecing manis umumnya timbul efek peningkatan kadar gula darah yang mana konsentrasi gula dalam darah.

Kondisi itu yang dibiarkan berlama-lama, akan membuat konsentrasi gula semakin pekat di dalam hingga akhirnya ginjal tak mampu lagi menyaring gula sebagaimana mestinya dan gula pun ikut terbuang bersama urin (kencing).

Padahal seharusnya gula tidak boleh terlepas dari saringan ginjal dan ikut terbuang bersama urin. Itulah juga mengapa banyak orang menyebut penyakit Diabetes Mellitus dengan istilah kencing manis.

Pada penderita DM tipe 2, umumnya dijumpai beberapa gejala klasik alias kumpulan gejala yang khas untuk penyakit metabolik yang satu ini.

Anda pun tentu juga dapat menjadikan kumpulan gejala klasik ini sebagai patokan awal apakah Anda menderita diabetes atau tidak.

Dalam dunia medis, gejala-gejala umum diabetes melitus tipe dikenal dengan istilah 4P, yang meliputi :

  1. Polifagi (Ingin makan terus menerus)

Diabetes mellitus bisa terjadi diakibatkan oleh adanya gangguan fungsi dari hormon insulin.

Hormon ini paling penting untuk membantu proses gula dapat masuk ke sel-sel tubuh. Gula tersebut sebagai sumber energi bagi sel supaya dapat melakukan aktivitas metabolisme selanjutnya.

Maka, tatkala hormon insulin terganggu, otomatis suplai gula sulit diberikan ke dalam sel. Sel-sel tubuh pun senantiasa merasa tidak berenergi dan alhasil senantiasa “lapar”.

Sel tubuh yang butuh energi tersebut mengirimkan sinyal ke otak sebagai pusat pengaturan tubuh paling berkuasa agar selanjutnya mengirim sinyal ke bagian otak lain supaya memerintah kita makan.

Itulah penjelasan singkat mengapa kita seakan mudah lapar dan ingin makan terus menerus.

  1. Polidipsi (Selalu merasa haus)

Penderita DM kerap merasa bingung karena mudah sekali merasa haus. Sekalipun tidak mengalami dehidrasi akibat berada di cuaca panas atau pun selepas beraktivitas fisik yang melelahkan.

Sebenarnya rasa haus yang senantiasa timbul adalah proses lanjutan dari sel tubuh yang selalu ” lapar”.

Sebagaimana tadi dijelaskan pada poin pertama, penderita DM selalu ingin makan kapan pun. Nah, ketika penderita diabetes mememenuhi setiap hasratnya dengan makan, tentu gula di dalam darah juga selalu tinggi.

Padahal, gula yang berada di dalam darah pada saat waktu makan sebelumnya belum juga berkurang karena gula tidak dapat diberikan ke sel-sel tubuh.

Alhasil kadar gula dalam darah terus-menerus tinggi dan menimbulkan sinyal baru ke otak supaya memerintah diri kita untuk minum dengan adanya rasa haus.

Sebenarnya sinyal haus terbentuk, karena konsentrasi gula dalam darah terlalu pekat, jadi tubuh membentuk rasa haus supaya ada cairan yang masuk untuk mengurangi kepekatan gula dalam darah. Ini semacam proses kimia sederhana.

Analogi supaya Anda lebih mudah memahaminya sama seperti kita minum teh manis, ketika gula yang dilarutkan dalam teh terlalu banyak sehingga begitu manis, Anda pasti akan menambahkan air putih sypaya manisnya pas sesuai dengan selera.

Anggap saja bahwa kita adalah sang darah, sementara teh manis adalah kadar gula di dalam darah.

  1. Poliuri (Sering buang air kecil)

Berdasarkan penjelasan dua gejala di atas, Anda seharusnya dapat menebak mengapa penderita diabetes sering buang air kecil.

Ya, memang itu proses alamiah setelah seseorang banyak dan sering minum, tentu juga akan kerap buang air kecil lebih sering dari biasanya.

Namun, jika kadar gula darah tidak dapat dikontrol, justru terjadi gangguan ginjal. Gangguan ginjal kronis dan semakin buruk tentunya menyebabkan fungsi ginjal untuk menyaring darah sekaligis membentuk ginjal pun ikut terganggu akibat dari kondisi hiperglikemik.

Gangguan ginjal yang berat malah membuat Anda tak lagi buang air kecil, melainkan Anda justru tidak bisa buang air kecil.

Bahkan, lebih lanjut lagi, ketika kerusakan ginjal senakin berat, akan membuat Anda butuh menjalani hemodialisa alias cuci darah.

  1. Pruritus (Gatal-gatal)

Ini terjadi akibat kelembapan kulit menurun setelah banyak urin atau kencing yang dikeluarkan.

Gejala Awal Diabetes Melitus Tipe 2

Selain gejala klasik 4P yang telah disebutkan, ada juga gejala-gejala lainnya yang bisa muncul pada awal-mula seseorang menderita diabetes, misalnya :

  • Penurunan berat badan

Anda mungkin akan heran mengapa gejala klasik sering makan, justru bisa disertai dengan penurunan berat badan.

Mekanisme berat badan menurun sebenarnya terkait dengan penjelasan mengenai bagaimana terbentuknya sensasi lapar yang terjadi terus-menerus. Sel-sel tubuh tidak mendapatkan suplai gula yang cukup karena gangguan fungsi hormon insulin.

Alhasil, banyak sel yang tidak mampu bertahan alias mengalami kematian. Selain itu, sel-sel otot maupun lemak juga banyak dihancurkan untuk menjadi bahan metabolisme tubuh yang akan menghasilkan energi.

Oleh karena itu, penderita diabetes banyak yang terlihat kurus. Namun, bukan berarti semua penderita diabetes mengalami penurunan berat badan.

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan berat badan menurun. Salah satunya yaitu hiperglikemi yang terjadi dalam jangka waktu lama.

  • Kelelahan

Mekanisme terjadinya lelah masih sama juga, yaitu sel-sel tubuh tidak cukup mendapat gula sebagai sumber energi sesuai kebutuhan.

Alhasil tentu efek kelaparan yang dialam sel tubuh berimbas pada kondisi penderita DM secara menyeluruh dengan merasa lelah terus-menerus, meskipun banyak makan.




  • Penglihatan yang kabur

Terjadinya penglihatan yang kabur oleh karena hiperglimek nantinya berimbas pada aliran darah yang terganggu.

Apalagi pembuluh-pembuluh darah di mata berukuran begitu kecil, sehingga jika aliran darah terganggu, maka mata menjadi salah satu organ target yang segera mengalami dampaknya.

  • Tingkat penyembuhan luka yang lambat

Hal ini juga disebabkan oleh hiperglikemik yang menimbulkan gangguan zat-zat pembekuan darah. Itulah mengapa para penderita DM dianggap sering mengalami luka yang selalu terkesan “basah”

  • Infeksi jamur

Sebenarnya salah satu risiko bagi penderita diabetes adalah mengalami berbagai macam infeksi. Namun, yang paling sering terjadi adalah infeksi jamur, khususnya di permukaan kulit.

Hal itu dikarenakan ada jamur baik yang memang kerap ditemui di kulit, yaitu janur Kandida. Jumlah jamur Kandida tentu memiliki batasan supaya dianggap normal.

Jamur ini sangat senang tatkala banyak gula di dalam darah karena memang itu adalah sumber energinya untuk melangsungkan kehidupan, termasuk berkembang biak.

Alhasil, karena kerap terjadi hiperglikemik pada penderita DM, makan jamur populasi jamur Kandida terus bertambah hingga melebihi batasan jumlah yang seharusnya.

Oleh karena itu, jamur yang semula baik justru malah menimbulkan gangguan di kulit kita, terutama pada area yang lembap dan area lipatan-lipatan, seperti sela-sela jari, ketiak, dan selangkangan.

  • Kebas-kebas

Seperti telah dijelaskan di awal bahwa hiperglikemik yang dibiarkan terjadi terus-menerus dapat menimbulkan gangguan syaraf.

Maka, gejala awal diabetes melitus tipe 2 yang muncul tatkala syaraf terganggu adalah terjadinya kebas-kebas, terutama di daerah telapak kanan dan kaki.

Demikian artkel pengensehat.com kali ini mengenai gejala awal dari Diabetes Mellitus tipe 2. Jika Anda menemukan adanya gejala yang disebutkan pada diri Anda, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter untuk dipastikan apakah Anda memang menderuta diabetes atau tidak.

Leave a Reply