Pengertian Prediabetes dan Cara Mengobatinya

Prediabetes merupakan suatu keadaan dimana nilai gula darah seseorang lebih tinggi dari normal, tapi tidak cukup tinggi bila ditentukan sebagai diabetes melitus tipe II.

Pada seorang yang dikatakan mengalami prediabetes, kerusakan pada jantung dan sirkulasi darah sistemik mungkin telah mengalami gangguan.

Keadaan prediabetes pun dianggap sebagai faktor risiko diabetes dan sering disertai atau dihubungkan dengan faktor risiko munculnya bentuk masalah kesehatan lainnya, misalnya :

  1. Obesitas,
  2. Peningkatan kadar trigliserida,
  3. Kadar high-density lipoprotein (HDL) yang rendah alias jenis lemak baik di tubuh, dan
  4. Hipertensi
Gejala prediabetes

Gejala prediabetes

Istilah pradiabetes diperkenalkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Departemen Kesehatan Amerika Serikan dan Aosiasi Diabetes Amerika.

Sebelum menggunakan istilah pradiabetes, para dokter menggambarkan kondisi yang sama dengan istilah Toleransi Gula Terganggu (TGT) dan Gula Darah Puasa Terganggu (GDPT).

Setiap tahun, diketahui ada sekitar 4-9% orang dengan prediabetes yang kan menderita diabetes pada kemudian hari.

Kriteria Prediabetes

Untuk memudahkan Anda memahami kriteria kadar gula normal, prediabetes dan diabetes, berikut ini penjelasan singkat mengenai hal tersebut :

  • Pada keadaan normal, kadar glukosa darah puasa (GDP) adalah < 100 mg/dL, dan 2 jam setelah pemberian air gula < 140 mg/dL.
  • Sedangkan untuk diabetes, kadar glukosa puasa adalah ≥ 126 mg/dL dan 2 jam setelah pemberian air gula ≥ 200 mg/dL.

Maka, kondisi pradiabetes terletak diantara kedua keadaan tersebut yakni:

  1. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) yang mana kadar gula darah puasa 100 – 125 mg/dL
  2. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) alias kadar gula darah 2 jam setelah pemberian air gula 140 – 199 mg/dL.

Berdasarkan American Diabetes Assosiation (ADA), terdapat sekitar 54 juta orang dewasa mengalami prediabetes di Amerika.

Sementara itu, Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, proporsi penduduk Indonesia dengan pradiabetes mencapai sekitar sepertiga dengan kriteria umum sebagai berikut :

  1. GDP 100-125 mg/dl untuk GDP terganggu tanpa memandang kadar gula darah 2 jam pasca pemberian air gula (GDPP), dan
  2. TGT dengan GDPP 140-199 mg/dl tanpa memperhatikan kadar GDP

Resistensi Insulin

Baik diabetes maupun kondisi sebelumnya alias prediabetes, dimulai dengan adanya kondisi resistensi insulin. Penjelasan singkat mengenai istilah resisten insulin merujuk pada gangguan kerja hormon insulin dalam proses metabolisme sel-sel tubuh.

Resistensi insulin merupakan statu keadaan yang meningkatkan resiko terhadap perkembangan diabetes dan penyakit koroner.

Ketika terjadi resistensi insulin, maka sel-sel otot, lemak dan hati tidak dapat menggunakan insulin secara maksimal dan sebagai kompensasi páncreas akan memproduksi lebih banyak insulin yang akan beredar dalam sirkulasi.

Oleh karena itu, pada orang-orang dengan resistensi insulin ditemukan adanya peningkatan kadar gula darah bersamaan dengan peningkatan kadar insulin.

Resistensi insulin dan diakibatkan oleh genetik, kelebihan berat-badan, kurangnya aktivitas fisik, dan penuaan.

Kelebihan berat badan atau obesitas berpengaruh terhadap kerja insulin karena jaringan lemak yang berlebihan menyebabkan kurangnya kemampuan sel-sel otot dalam menggunakan insulin sehingga terjadi resistensi insulin.

Faktor Risiko Prediabetes

Pada umumnya, seseorang dicurigai termasuk ke dalam kelompok orang-orang dengan prediabetes dilandasi oleh  sebuah kriteria prediksi diperoleh secara pengamatan empiris. Misalnya:

  • Anak dari penderita DM tipe 2,
  • Obesitas sentral.

Kemudian, suatu panel ahli merumuskan bahwa mereka yang berisiko tinggi menjadi diabetes tersebut, memiliki prioritas untuk menjalani serangkaian pemeriksaan untuk menentukan adanya pradiabetes.

Faktor risiko prediabetes adalah orang yang memiliki:

  1. Riwayat diabetes dalam keluarga,
  2. Penyakit kardiovaskuler (Penyakit jantung dan pembuluh darah),
  3. Overweight atau obese
  4. Gaya hidup yang berisiko (sedentatry lifestyle)
  5. Pernah sebelumnya diketahui mengalami pradiabetes atau sindroma metabolik
  6. Hipertensi (darah tinggi)
  7. Dislipidemia (gangguan jumlah lemak darah di tubuh)
  8. Riwayat diabetes gestasional (DM tatkala hamil)
  9. Riwayat melahirkan anak > 4 kg
  10. Polycystic ovary syndrome
  11. Mengonsumsi terapi antipsikotik untuk skizofrenia.

Jadi, penyebab dari prediabetes cukup bervariasi. Pradiabetes tidak hanya berisiko menjadi diabetes, namun juga penyakit kardiovaskuler.

Kecepatan progresi atau perburukkan prediabetes tergantung pada :

  • Tingginya kadar glukosa darah pada saat terdiagnosis,
  • Latar belakang ras dan etnis, serta
  • Faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Semakin tinggi level glukosa darah semakin besar risiko progresivitas dan komplikasi yang ditimbulkannya.

Tanpa pengobatan atau perubahan gaya hidup, pradiabetes akan berkembang menjadi diabetes melitus tipe II dalam kurun waktu 10 tahun.

Meskipun begitu, progresi dari pradiabetes menjadi diabetes melitus tipe II tidak bersifat mutlak. Dengan perubahan gaya hidup yang sehat dapat menurunkan nilai gula darah kembali ke normal.

Adapun gaya hidup yang dianjurkan bagi penderita prediabetes adalah:

  1. Mengonsumsi makanan yang sehat,
  2. Melakukan aktivitas jasmani alias berolahraga secara rutin, dan
  3. Mempertahankan berat badan ideal.

Namun, apabila cara-cara di atas gagal, maka diperlukan pemberian obat-obatan dari dokter. Pemberian obat bertujuan untuk mendampingi program lifestyle yang mencakup tiga langkah tersebut di atas.

Sasaran pengobatan adalah menekan peningkatan kadar glukosa darah dan risiko kardiovaskuler. Untuk ini, mungkin diperlukan obat-obatan untuk menekan hiperglikemia, hipertensi, dislipidemia, penggunaan aspirin, penghentian merokok dan lain lain.

Penilaian terhadap perubahan gaya hidup dan pengobatan yang diberikan, seyogianya dilakukan melalui pemantauan berkala terhadap masing masing individu berdasarkan tingkat tingginya faktor risiko yang dimilikinya.

Jika Anda termasuk ke dalam kelompok yang berisiko lebih tinggi, maka Anda harus aktif untuk memantau kadar gula darah anda.

Pada umumnya pemantauan meliputi pengukuran kadar gula darah puasa dan postprandial (2 jam setelah makan) dan HbA1c.

Pada penderita prediabetes seharusnya juga dilakukan pemantauan terhadap mikroalbuminuria, kadar lipid puasa, dan tekanan darah. Segala bentuk pemantuan tersebut paling minimal dilakukan sebanyak sekali dalam setahun.

Demikian ulasan singkat mengenai prediabetes melalui artikel pengensehat.com, semoga artikel ini bermanfaat.

Leave a Reply