Mengapa Penderita Diabetes Melitus Harus Suntik Insulin?

Saat ini diketahui ada 3 jenis tipe diabetes melitus yaitu diabetes tipe 1, 2 dan gestasional. Pengobatan dan penanganan dari tipe-tipe tersebut berbeda-beda, mulai dari konsumsi obat sampai dengan suntik insulin.

Umumnya penderita tidak menyadari telah mengalami sakit gula meski sudah merasakan beberapa gejala awal diabetes seperti berat badan turun, sering buang air kecil dan merasa kelelahan.




Diagnosis diabetes yang paling tepat dilakukan di laboratorium untuk mengetahui kadar gula dalam darah. Beberapa alat tes gula darah yang dijual bebas saat ini juga bisa digunakan untuk mengukur kadar gula.

Penyakit diabetes menyebabkan kemampuan tubuh untuk menggunakan atau membuat insulin menurun. Akibatnya glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel-sel dalam tubuh.

Jika kondisi ini terjadi terus menerus maka dalam jangka panjang akan menyebabkan banyak kerusakan di dalam tubuh, di antaranya kerusakan pembuluh darah dan saraf.

Manfaat Suntik Insulin

Jumlah insulin dalam tubuh penderita diabetes sangat sedikit. Hal ini disebabkan karena pankreas—organ yang memproduksi insulin, tidak bisa memproduksi insulin seperti halnya pada tubuh yang normal.

Padahal, insulin sangat dibutuhkan tubuh untuk menyerap glukosa dalam sel-sel tubuh dan mengubahnya menjadi energi. Selain itu, insulin juga berfungsi untuk menyeimbangkan kadar glukosa di dalam darah.




Jika aliran darah kebanyakan glukosa, insulin akan memberi signal pada tubuh untuk menyimpan kelebihan gula tersebut di dalam hati/liver. Gula ini takkan dilepas hingga gula darah dalam tubuh turun, misalnya ketika tubuh membutuhkan dorongan energi tambahan.

Insulin begitu penting untuk tubuh, sayangnya organ pankreas pada tubuh penderita diabetes tidak bisa lagi memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuhnya.

Biasanya, kadar gula dalam darah dijaga dengan menggunakan tablet. Namun, menurut penelitian United Kingdom Prospective, setelah enam tahun, 50 persen pasien diabetes memerlukan insulin agar kadar gulanya normal.

Suntik insulin bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah dan membantu pasien menghindari masalah kesehatan seperti:

  • Serangan jantung
  • Stroke
  • Gangguan penglihatan
  • Penyakit ginjal
  • Masalah pada saraf
  • Luka kaki
  • Amputasi
Suntik insulin bagi penderita diabetes melitus

Suntik insulin bagi penderita diabetes melitus. Foto mirror.co.uk

Kapan Penderita Diabetes Perlu Suntik Insulin

Bukan hanya untuk penderita diabetes tipe satu, mayoritas pasien diabetes tipe dua juga pada akhirnya akan memerlukan insulin, karena sel beta pankreas akan mengalami penyusutan atau sel yang menghasilkan insulinnya akan semakin progresif.

Sayangnya, pasien penderita diabetes di Indonesia masih sangat sedikit yang menggunakan injeksi insulin. Menurut, Prof. Dr. dr. Agung Pranoto, MSc, SpPD-KEMD, FINASIM, spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan endrokin metabolik diabetes dari Rumah Sakit Darmo, banyak orang yang menunda penggunaan insulin, karena phobia atau takut insulin.

Lalu, sebenarnya kapan pasien diabetes harus melakukan suntik insulin?

Agung yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) menjelaskan, idealnya suntik insulin dimulai ketika sudah terjadi gagal obat. Gagal obat artinya tubuh tidak cocok atau telah resisten terhadap obat yang digunakan.

“Bisa saat gagal satu obat, gagal dua, tiga atau empat obat langsung dimulai suntik insulin. Namun, yang paling baik terapi suntik insulin dilakukan sedini mungkin dan ketika belum terjadi komplikasi”, ujar Agung Pranoto.

Bila melakukan suntik insulin ketika telah terjadi komplikasi, misalnya ginjal telah bocor, mata sudah tak bisa melihat dan lain sebagainya, kadar gula bisa stabil, namun penyakit karena komplikasi sudah tak bisa dikembalikan.

“Jadi, lakukan suntik insulin sebelum terjadi komplikasi,” lanjut dokter Agung.

Tetapi, fakta yang terjadi di masyarakat, sebagian besar pasien diabetes melitus baru menyadari terkena diabetes ketika sudah mengalami komplikasi.

Kurang lebih 20 persen pasien sudah mengalami komplikasi di mata, 80 persen ginjalnya sudah bocor dan sembilan persen terjadi neuropati atau gangguan saraf. Bahkan, 50 persen diantaranya sudah mengalami penyakit jantung koroner.

“Semua itu terjadi karena diabetes tak terdiagnosa sejak dini. Ya, sebagian penderita diabetes telat memeriksakan penyakitnya,” terang dr Agung.




Deteksi Dini Diabetes Melitus

Ada baiknya orang-orang yang memiliki faktor risiko seperti genetik, obesitas, gaya hidup tidak sehat dan sebagainya, melakukan deteksi sejak dini. Deteksi dini sangat penting, karena gula darah yang melonjak tidak akan ada keluhannya. Bahkan, hingga mencapai angka 300 tidak ada keluhan sama sekali.

Injeksi insulin memang bukan terapi yang populer di kalangan pengidap diabetes. Kerepotan menyuntik diri sendiri menjadi salah satu satu faktor penyebab terapi ini tak populer.

Namun, Profesor Hendromartono dari Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD Dr. Soetomo, Surabaya menjelaskan, prosedur menyuntik itu gampang. Cuman butuh beberapa kali latihan, pasien dipastikan akan mahir menyuntik dirinya sendiri. Apalagi, saat ini sudah beredar di pasaran peralatan canggih untuk menyuntikkan insulin.

Penderita diabetes sebaiknya mempertimbangkan terapi suntik insulin, selain meminum obat. Obat anti-diabetes, dibuat dengan prinsip kerja mendorong sel-sel pankreas menghasilkan insulin.

Pada tahap-tahap awal, dorongan dan komando ini bekerja cukup efektif. Namun, setelah beberapa tahun pankreas bisa kelelahan. Sehingga instruksi obat-obatan tidak akan mempan lagi. Akibatnya, obat terus diminum, tapi gula darah tetap tinggi.

Nah, bila melakukan terapi injeksi insulin, sel-sel pankreas beristirahat dari kelelahan akibat dipakai untuk terus memproduksi insulin. Beberapa waktu kemudian setelah pankreas fit, injeksi insulin bisa dihentikan dan kembali minum obat.

Saat ini, para ahli telah merintis penggunaan insulin glargine. Insulin ini lebih menyerupai insulin alami, relatif lebih aman, dan bekerja konstan. Cara kerjanya, insulin dilepaskan ke dalam tubuh perlahan-lahan dan terus-menerus dalam 24 jam, sehingga risiko hipoglikemi mendadak bisa ditekan.

Meski begitu, pasien tetap harus patuh pada pengaturan makan yang telah diatur dokter. Bila tidak, terapi apa pun tak bakal berguna menolong pasien diabetes.

Pasien atau orang dengan risiko tinggi juga bisa mencoba beberapa obat alami diabetes melitus seperti tanaman obat dan herbal yang sudah terbukti dapat menurunkan kadar gula darah, dan yang pasti harus tetap kontrol ke dokter. []

Tulis Komentar